Bergerak melampaui digitalisasi dasar, ParagonCorp kini memperkuat pengembangan Smart Lab 2.0 sebuah ekosistem riset dan pengembangan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mempercepat inovasi produk sekaligus membantu perusahaan memahami kebutuhan konsumen Indonesia secara lebih presisi dan relevan.
Jakarta, http://sudutlimapuluhkota.com — ParagonCorp memperkuat transformasi riset dan pengembangan (R&D) melalui pengembangan Smart Lab 2.0, sebuah ekosistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mempercepat inovasi produk sekaligus memahami kebutuhan konsumen Indonesia secara lebih presisi.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi kompleksitas industri kecantikan yang terus berkembang, seiring meningkatnya permintaan konsumen terhadap produk yang lebih personal, relevan, dan inklusif. Saat ini, ParagonCorp memiliki lebih dari 17 brand dengan lebih dari 2.000 portofolio produk aktif.
Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, Sp.D.V.E, FINSDV, menjelaskan bahwa perusahaan kini telah melampaui tahap digitalisasi dasar dan mulai membangun sistem AI di atas infrastruktur R&D yang terintegrasi.
“Kami tidak lagi berada pada tahap digitalisasi dasar, tetapi mulai membangun lapisan AI di atas infrastruktur R&D yang telah terintegrasi. Tujuannya bukan hanya mempercepat inovasi, tetapi juga membantu proses riset menjadi lebih adaptif, sistematis, dan scalable,” ujar dr. Sari dalam forum Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2026 di JIExpo Kemayoran, Kota Jakarta, pada Jum’at (08/05/2026)
Baca Juga : ILP 2026 Resmi Dibuka, ParagonCorp Perkuat Peran Dosen dalam Transformasi Pendidikan
Transformasi ini dimulai dari sistem manual berbasis kertas, berkembang ke Smart Lab 1.0 melalui platform formulasi berbasis web, hingga kini memasuki Smart Lab 2.0 yang mengintegrasikan AI dalam proses formulasi, pengelolaan bahan baku, dan pengembangan platform konsumen.
Dalam implementasinya, AI telah dimanfaatkan di berbagai lini R&D, termasuk melalui teknologi AI Color Matching untuk formulasi kosmetik. Teknologi ini mampu menghasilkan formula warna prediktif dengan tingkat akurasi lebih dari 95 persen serta memangkas waktu formulasi hingga sekitar 60 persen dibandingkan metode konvensional.
Selain itu, AI juga digunakan dalam ingredient discovery dan intelligent experiment design melalui pengolahan biological big data seperti skin genomics, metabolomics, dan skin microbiome. Pendekatan ini membantu peneliti mengidentifikasi bahan aktif potensial yang lebih sesuai dengan kebutuhan kulit konsumen.
ParagonCorp juga membangun dataset warna kulit dari lebih dari 1.000 perempuan Indonesia guna mengembangkan shade produk yang lebih representatif bagi keberagaman konsumen lokal.
“AI membantu kami memahami konsumen Indonesia secara lebih mendalam, bukan hanya dari sisi preferensi, tetapi juga karakteristik biologis kulitnya. Dari sanalah inovasi yang benar-benar relevan dapat lahir,” tambah dr. Sari.
Meski demikian, ParagonCorp menegaskan bahwa AI berfungsi sebagai co-pilot, bukan autopilot. Teknologi digunakan untuk mendukung percepatan riset tanpa menggantikan pertimbangan ilmiah dan tanggung jawab manusia.
“AI bagi kami adalah co-pilot, bukan autopilot. AI membantu mempercepat proses dan membuka kemungkinan baru, tetapi sentuhan manusia tetap menjadi penentu utama dalam menghadirkan inovasi yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Ke depan, ParagonCorp juga menyiapkan pengembangan Smart Lab 3.0 yang mencakup robotic formulation, automated warehouse, dan close-system automated pilot scale.
Partisipasi ParagonCorp dalam ICI 2026 menjadi wujud kontribusi perusahaan dalam mendorong industri kosmetik nasional yang lebih inovatif, inklusif, dan berdaya saing global melalui pemanfaatan AI yang bertanggung jawab. (TIM)
