Merangin, http://sudutlimapuluhkota.com — Di kaki Lembah Masurai, tempat kabut pagi menari di antara pepohonan dan suara Air Terjun Sigerincing menggema lembut, Dusun Tuo tumbuh menjadi simbol perubahan. Kampung kecil di Kecamatan Lembah Masurai ini kini dikenal sebagai salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) yang berhasil bertransformasi menjadi desa berdaya.
Dusun Tuo bukan sekadar desa wisata dengan panorama alam menawan. Di wilayah ini, berdiri Batu Silindrik, peninggalan purba yang telah diakui UNESCO sebagai bagian dari Geopark Merangin. Bagi warga setempat, batu itu bukan sekadar situs sejarah, melainkan simbol keseimbangan antara alam dan manusia. “Dari kecil kami sudah tahu batu itu sakral,” ujar salah satu warga setempat.
Sejak ditetapkan sebagai KBA pada tahun 2022, Dusun Tuo perlahan berubah menjadi kampung inspiratif. Melalui sinergi antara PT Astra International dan masyarakat, program KBA menjembatani pengetahuan modern dengan kearifan lokal. Di sinilah semangat korporasi bertemu dengan gotong royong warga dua kekuatan yang berpadu membawa kemajuan.
Baca Juga : Delapan Tahun Astra Bersama Ichsan: Menghidupkan Kembali Cahaya dari Ujung Laut Alue Naga
Dua tokoh menjadi motor penggerak perubahan tersebut: Mohd Husin, Sekretaris Desa, dan Eko, penggiat KBA yang menjadi penghubung antara warga dan Astra. “Awalnya masyarakat ragu, tapi sekarang mereka sendiri yang semangat melanjutkan,” ungkap Eko. Menurutnya, perubahan sejati lahir ketika masyarakat mau bergerak bersama.
Kini, manfaat program KBA mulai dirasakan nyata. Anak-anak belajar di Rumah Pintar KBA, tempat mereka mengenal literasi dan teknologi sederhana. Para ibu aktif mengikuti kegiatan posyandu yang mendapat pendampingan kesehatan dan gizi. Di sisi lain, program elektrifikasi Astra membuat penerangan di malam hari semakin stabil menyulut cahaya harapan baru bagi warga.
Tak hanya itu, potensi ekonomi lokal juga mulai berkembang. Para pelajar SMK Negeri 6 Merangin berinovasi mengolah biji kopi robusta dari lereng Masurai menjadi produk unggulan bertajuk Kopi Lereng Masurai. Berkat pendampingan KBA, kini kopi tersebut tidak lagi dijual mentah, melainkan telah dikemas profesional dan dipasarkan hingga luar provinsi.
Dusun Tuo juga mulai dilirik wisatawan. Mereka datang untuk menikmati keindahan Air Terjun Sigerincing, mencicipi kopi lokal, hingga menginap di homestay milik warga. Kampung ini tumbuh sebagai ruang hidup yang harmonis antara alam, budaya, dan ekonomi.
Bagi masyarakat Dusun Tuo, KBA bukan sekadar proyek korporasi, melainkan perjalanan panjang dari keraguan menuju kemandirian. Empat pilar Astra: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan hingga kini benar-benar hidup dalam keseharian warga.
Di bawah gemuruh Air Terjun Sigerincing dan teduhnya Batu Silindrik, Dusun Tuo menegaskan satu hal: kemajuan tak harus memisahkan diri dari tradisi. Justru, keduanya bisa berpadu menjadi kekuatan untuk masa depan yang lebih bijak dan berkelanjutan. “Ketika cahaya Astra bertemu semangat warga, Dusun Tuo tak hanya tumbuh dan juga ia bersinar.” (TIM)
#KabarBaikSatuIndonesia

