Banda Aceh, http://sudutlimapuluhkota.com — Di ujung pesisir Kota Banda Aceh, di antara lumpur dan laut yang terus beradu, berdiri sebuah kampung yang dahulu hampir tenggelam oleh waktu: Alue Naga. Delapan tahun setelah ditetapkan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA), desa ini menjelma menjadi ruang hidup yang penuh warna. Anak-anak berlarian di jalanan bersih, ibu-ibu menjemur hasil olahan laut, sementara para pemuda berkumpul membahas ide-ide baru di bawah langit biru.
Di balik perubahan itu, ada satu nama yang menjadi poros semangat warga: Ichsan Rusydi, seorang dosen muda yang meyakini bahwa harapan bisa tumbuh bahkan di tanah asin sekalipun.
Baca Juga : Dari Anyaman Pandan ke Anyaman Kehidupan: Jejak Astra di Pantai Cermin Kanan
Kilas Balik: Dari Reruntuhan ke Harapan
Dua dekade silam, Alue Naga menjadi saksi bisu dahsyatnya gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Kota Banda Aceh. Desa pesisir ini kehilangan banyak hal seperti rumah, harapan, dan arah masa depan. Namun dari reruntuhan itulah muncul semangat baru.
Ichsan, putra asli Alue Naga, kembali dengan tekad membawa perubahan. Ia melihat potensi yang selama ini tersembunyi di perairan kampungnya: tiram. Jika dulu warga memanennya dengan cara berisiko tanpa memperhatikan keselamatan dan kesehatan, kini metode itu berubah berkat inovasinya yang dikenal sebagai “Rumah Tiram”.
Rumah Tiram memperkenalkan sistem budidaya ramah lingkungan yang memungkinkan warga memanen dengan aman dan efisien. Inovasi sederhana ini kemudian menarik perhatian Astra untuk menjadikan Alue Naga sebagai Kampung Berseri Astra pada Tahun 2017 tonggak awal kolaborasi menuju kebangkitan desa.
Kolaborasi untuk Kebangkitan
Sejak Astra hadir, semangat gotong royong kembali hidup. Empat pilar KBA: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan yang bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dijalankan.
Anak-anak kini belajar di PAUD yang tertata rapi. Para ibu aktif mengolah hasil laut menjadi kerupuk, sambal, hingga nugget tiram yang memiliki nilai jual tinggi. Para nelayan tidak lagi berendam berjam-jam di laut, melainkan bekerja lebih efisien dengan sistem budidaya modern.
“Dulu kami hanya tahu mengambil, sekarang kami tahu cara menjaga dan mengembangkan,” tutur Ichsan yang kini menjadi penggerak komunitas dan fasilitator pemberdayaan masyarakat.
Alue Naga 2025: Dari Desa Binaan ke Desa Teladan
Delapan tahun berlalu, Alue Naga bertransformasi menjadi desa produktif dan mandiri. Rumah Tiram berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan, tempat pelajar, akademisi, hingga masyarakat umum belajar tentang konservasi laut.
Di sepanjang pesisir, ban-ban bekas tersusun rapi menjadi media tumbuh tiram sebagai simbol inovasi yang lahir dari keterbatasan. Warga tak lagi bergantung pada laut semata, tetapi juga pada kreativitas.
Kelompok UMKM perempuan terus tumbuh, memasarkan produk olahan tiram hingga ke pasar daring. Generasi muda belajar digital marketing dan membentuk komunitas peduli pesisir, menjadikan Alue Naga sebagai contoh desa tangguh berbasis pengetahuan dan kolaborasi.
Harapan yang Tak Pernah Tenggelam
Kampung Berseri Astra di Alue Naga bukan sekadar kisah sukses program CSR. Ia adalah bukti bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah kecil dan hati yang tulus.
Ichsan dan warga Alue Naga membuktikan bahwa inovasi bukan milik kota besar semata, melainkan milik siapa pun yang berani bermimpi. Dari ujung laut Kota Banda Aceh, mereka menunjukkan bahwa harapan tidak pernah tenggelam bahwa ia hanya menunggu untuk diselamatkan.
Dari Alue Naga, kita belajar bahwa bangkit adalah pilihan. Astra dan masyarakat membuktikan: satu langkah kecil bisa menerangi seluruh pesisir. (TIM)
#KabarBaikSatuIndonesia

