Limapuluh Kota, http://sudutlimapuluhkota.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kebijakan Publik (PRKP) berkolaborasi dengan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait penelitian pengembangan model pariwisata berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat (Community-Based Tourism/CBT) di Kabupaten Lima Puluh Kota.
Kegiatan yang berlangsung di ruang coffee (eks Ruang Sidang 3) pada Rabu (24/06/2026) tersebut diikuti oleh pengelola desa wisata, surveyor lapangan, akademisi, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lima Puluh Kota.
Penelitian ini merupakan bagian dari program nasional BRIN untuk menyusun model pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat, khususnya pada desa wisata kategori berkembang. Kabupaten Lima Puluh Kota menjadi salah satu lokasi penelitian bersama Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara. Sementara itu, desa wisata yang menjadi pembanding praktik terbaik (best practice) yakni Desa Wisata Panglipuran di Provinsi Bali dan Desa Wisata Nglanggeran di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
FGD tersebut menghadirkan perwakilan pengelola lima desa wisata di Kabupaten Lima Puluh Kota, yakni Nagari Wisata Kapalo Banda Taram, Lubuak Batingkok, Sikabu-kabu Kayu Kolek, Bukik Kociak, dan Saribu Gonjong (Sarugo).
Selain pengelola desa wisata, kegiatan ini juga melibatkan surveyor lapangan yang akan melakukan pengumpulan data terkait persepsi masyarakat terhadap dampak pengembangan pariwisata berkelanjutan. Turut hadir unsur Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lima Puluh Kota melalui Bappelitbangda yang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan riset tersebut.
Ketua tim peneliti BRIN menyampaikan, penelitian ini bertujuan mengukur penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan, mengidentifikasi faktor pendukung dan kendala dalam penerapan konsep CBT, serta menganalisis dampak sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan dari pengembangan desa wisata.
“Penelitian ini nantinya diharapkan menghasilkan model konseptual dan rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan untuk memperkuat pengelolaan destinasi wisata berbasis masyarakat,” ujarnya.
Dalam diskusi, para pengelola desa wisata berbagi pengalaman terkait pengembangan destinasi, mulai dari pemberdayaan UMKM lokal, penguatan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pengembangan homestay, promosi digital, hingga upaya menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal.
Tim peneliti juga memberikan arahan teknis kepada surveyor yang akan melakukan pengumpulan data dari berbagai pelaku sektor pariwisata, seperti pelaku UMKM, pemandu wisata, penyedia homestay, pengrajin lokal, serta anggota Pokdarwis.
Dosen PPNP sekaligus bagian dari tim peneliti lokus Kabupaten Lima Puluh Kota, Dr. Veronice, S.P., M.Si., mengatakan kolaborasi riset tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam merumuskan strategi pengembangan desa wisata yang tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Melalui pendekatan Community-Based Tourism, pengembangan pariwisata diharapkan mampu berjalan selaras dengan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya serta lingkungan,” katanya.
Penelitian kolaborasi antara Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Institut Teknologi Del, dan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh ini dilaksanakan pada 23–25 Juni 2026 di Kabupaten Lima Puluh Kota. (TIO)
