Jambi, http://sudutlimapuluhkota.com – Di balik perubahan kampung ini, ada Abdul Rahman, warga biasa sekaligus Ketua RT. Ia mulai mengajak warga menata kampung dari hal-hal kecil seperti menanam pohon dan merapikan halaman. Perlahan, semangat itu menular ke warga lain
Sejak resmi menjadi bagian dari program KBA pada akhir 2017, Penyengat Rendah terus menunjukkan kemajuan lewat empat pilar utama: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. Di balik perubahan kampung ini, ada Abdul Rahman, warga biasa sekaligus Ketua RT. Ia mulai mengajak warga menata kampung dari hal-hal kecil seperti menanam pohon dan merapikan halaman. Perlahan, semangat itu menular ke warga lain.
Baca Juga : Dusun Tuo Bersinar Bersama Astra: Mengalirkan Semangat Perubahan dari Lembah Masurai
Awal Perubahan dari Kampung Tambang
Sebelum menjadi kampung hijau yang dikenal banyak orang, Penyengat Rendah dulu hanyalah kawasan tambang pasir di tepian Sungai Batanghari. Debu, kebisingan, dan kesemrawutan menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, keadaan itu perlahan berubah ketika Abdul Rahman, seorang warga setempat yang juga Ketua RT, mulai bergerak mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan mereka.
Perjuangan itu tidak mudah. Butuh waktu hampir dua tahun bagi Rahman untuk menumbuhkan kesadaran warga agar mau menata kembali kampungnya. “Yang paling sulit itu mengubah pola pikir. Tapi kalau sudah ada niat, semuanya bisa dilakukan,” ujarnya suatu kali.
Berkat kegigihannya, Penyengat Rendah pun terpilih menjadi salah satu Kampung Berseri Astra pada akhir 2017. Dukungan dari Astra memperkuat langkah Rahman dan warga untuk menata lingkungan mereka sekaligus memperbaiki kualitas hidup. Dari sinilah semangat perubahan mulai tumbuh, membawa Penyengat Rendah menjadi kampung yang benar-benar “berseri”.
Empat Pilar Perubahan di KBA Penyengat Rendah
Setelah resmi menjadi bagian dari Kampung Berseri Astra, semangat warga Penyengat Rendah makin menyala. Berbekal empat pilar utama: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan, sehingga mereka membangun kampung ini dengan cara mereka sendiri: gotong royong, sederhana, tapi penuh makna.
Di bidang pendidikan, Rahman bersama para kader membentuk rumah belajar untuk anak-anak di sekitar kampung. Tempat ini bukan hanya sekadar ruang belajar, tapi juga wadah bermain dan menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak sejak dini. Mereka belajar membaca, menulis, dan mengenal nilai-nilai kebersihan serta kepedulian sosial.
Untuk kesehatan, kader posyandu kini lebih aktif mengajak ibu-ibu rutin menimbang balita dan menjaga pola makan keluarga. Astra membantu dengan pelatihan dan penyediaan fasilitas dasar, sehingga warga lebih paham pentingnya hidup sehat.
Sementara di pilar lingkungan, perubahan paling terasa. Kampung yang dulu gersang kini dipenuhi taman mini, tanaman hias, dan tempat pengolahan sampah sederhana. Warga juga rutin melakukan kerja bakti, menjaga agar lingkungan tetap bersih dan nyaman.
Dan dari pilar kewirausahaan, muncul berbagai usaha rumahan seperti keripik singkong, kue basah, dan kerajinan daur ulang. Produk-produk ini bukan hanya memberi tambahan penghasilan, tapi juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga yang dulunya tak pernah membayangkan bisa mandiri secara ekonomi.
Sosok Penggerak di Balik Perubahan
Di balik wajah baru KBA Penyengat Rendah, ada sosok yang tak pernah lelah bergerak: Abdul Rahman. Ia bukan pejabat, bukan pula orang kaya tapi hanya warga biasa yang punya mimpi besar untuk kampungnya.
Perjalanannya tidak mudah. Saat pertama kali mengajak warga untuk menata lingkungan, banyak yang ragu dan bahkan menolak. “Dulu orang hanya tahu kerja, pulang, tidur. Kalau diajak bersih-bersih, banyak yang bilang tak sempat,” kenangnya. Tapi Rahman tidak menyerah. Sedikit demi sedikit, ia menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil seperti menanam satu pohon, atau mengubah ban bekas menjadi pot bunga.
Ketulusan dan konsistensinya mulai menular. Warga yang dulu cuek kini ikut terlibat. Dukungan Astra datang kemudian, memperkuat langkah-langkah yang sudah ia rintis sejak awal. Bersama warga, Rahman mengubah kampung ini menjadi ruang hidup yang lebih manusiawi menjadi bersih, indah, dan penuh semangat kebersamaan.
Kini, Rahman bukan hanya dikenal sebagai penggerak lingkungan, tapi juga sebagai panutan di bidang pendidikan dan ekonomi warga. Ia mendirikan TK gratis agar anak-anak di kampungnya bisa belajar tanpa harus pergi jauh. Ia juga menggagas koperasi “Aku Bisa Maju Berseri,” wadah bagi pelaku usaha lokal yang ingin berkembang bersama.
Menebar Manfaat, Menuai Harapan
Perubahan di KBA Penyengat Rendah tidak hanya terlihat dari lingkungan yang kini lebih asri, tapi juga dari mentalitas warganya. Kebersihan dan kerapian sudah menjadi budaya baru di kampung ini. Warga mulai terbiasa memilah sampah, menanam pohon di pekarangan rumah, dan menjaga taman bersama.
Dampak sosialnya pun terasa nyata. Anak-anak kini bisa bersekolah di TK yang didirikan Rahman tanpa harus menempuh jarak jauh. Para ibu lebih aktif melalui kegiatan Posyandu, termasuk Posyandu khusus lansia yang menjadi kebanggaan kampung. Sementara para pemuda mulai berkreasi dari limbah bekas, menjadikannya produk bernilai jual.
Melalui dukungan Astra, kampung ini terus berkembang menjadi ruang kolaborasi yang hidup. Setiap program selalu dirancang dengan semangat gotong royong bukan sekadar bantuan, tapi kemitraan yang menumbuhkan rasa memiliki.
Rahman berharap, keberhasilan KBA Penyengat Rendah bisa menjadi inspirasi bagi kampung lain di Indonesia. “Kita tidak bisa menunggu orang luar datang membantu. Kita mulai dari diri sendiri, baru nanti perubahan itu datang,” ucapnya mantap.
Kini, di bawah langit Jambi yang tenang, KBA Penyengat Rendah terus melangkah. Kampung yang dulu hanya dikenal sebagai wilayah tambang pasir, kini menjelma menjadi kampung yang bersinar bersama Astra menjadi bersih, berdaya, dan penuh harapan. (TIM)
#KabarBaikSatuIndonesia

