Padang Pariaman, http://sudutlimapuluhkota.com — Komunitas Seni Nan Tumpah kembali menggelar program rutin Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) #10 yang berlangsung pada 7–14 Februari 2026 di Ruang Temu Nan Tumpah, Korong Kasai, Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Kegiatan ini menghadirkan pameran seni rupa kolektif Silotigo serta gelar karya peserta Kelana Akhir Pekan.
Pelaksanaan KRNT tahun ini digelar dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat. Melalui medium seni, kegiatan tersebut membuka ruang dialog antara seniman dan masyarakat sekaligus merespons persoalan ekologis yang dihadapi wilayah tersebut.
Pameran bertajuk “Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan” menjadi presentasi tunggal perdana kolektif Silotigo yang beranggotakan Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil. Ketiganya menjalani residensi selama satu bulan di lingkungan sekretariat Nan Tumpah dan berinteraksi langsung dengan warga setempat.
Kurator pameran, Mahatma Muhammad, mengatakan tema tersebut merefleksikan dampak kerusakan lingkungan seperti alih fungsi lahan, penggundulan hutan, serta tata ruang yang mengabaikan aspek ekologis.
“Banjir bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga mencatat dampak kebijakan ruang dan pengelolaan lingkungan. Pameran ini hadir di kawasan yang hidup berdampingan dengan genangan air sebagai pengalaman sehari-hari,” ujarnya.
Selama residensi, para seniman memanfaatkan material sisa dan limbah di sekitar lokasi sebagai bahan karya. Sejumlah dinding rumah warga hingga ruang gudang dijadikan media ekspresi, sehingga proses berkarya menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Ketua RT 4 setempat, Anton, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran seni dapat mempererat kebersamaan warga. “Kami mendukung kegiatan ini karena bisa memperkuat kekompakan dan kepedulian antar warga,” katanya.
Selain pameran Silotigo, KRNT #10 juga menghadirkan Zona (Ny) Aman Seni, yakni presentasi hasil belajar Kelana Akhir Pekan. Sebanyak 56 anak mengikuti kelas seni selama satu semester, mulai dari silek, seni rupa, musik, tari, teater, hingga menulis kreatif. Kegiatan ini ditutup dengan pertunjukan seni, pameran karya, serta peluncuran buku fiksi siswa.
Selama tujuh hari pelaksanaan, sejumlah agenda turut digelar, seperti live painting, tur dan diskusi pameran, pelatihan kriya berbahan limbah, peluncuran lagu Kelana, pemutaran film, serta pertunjukan dari berbagai komunitas seni.
Melalui KRNT, Komunitas Seni Nan Tumpah berharap seni dapat menjadi ruang refleksi bersama sekaligus memperkuat hubungan sosial masyarakat di tengah tantangan lingkungan yang terus berubah. (TIM)

