- AI berdaulat diproyeksikan menambah hingga USD140 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2030, mendorong pertumbuhan ekonomi tahunan hingga 6,8%.
- Laporan menyoroti lima pilar utama kedaulatan AI: infrastruktur digital, tenaga kerja berkelanjutan, industri inovatif, riset unggul, serta regulasi dan etika yang kokoh.
- Indonesia butuh investasi USD3,2 miliar untuk komputasi nasional dan pengembangan 400 ribu talenta AI pada 2030 guna memperkuat daya saing digital.
- Melalui inisiatif seperti Sahabat-AI V2 dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia mulai beralih dari pengguna menjadi pembentuk teknologi AI global.
Jakarta, http://sudutlimapuluhkota.com – Pemerintah Republik Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dan status negara berpenghasilan tinggi pada 2038, sejalan dengan visi Asta Cita. Salah satu pendorong utama untuk mencapai target tersebut adalah penerapan kecerdasan artifisial (AI) yang berdaulat.
Dalam mendukung agenda tersebut, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bersama perusahaan riset dan konsultasi Twimbit meluncurkan Empowering Indonesia Report 2025 bertema “Building Bridges of Tomorrow”. Laporan ini menekankan pentingnya kedaulatan AI sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Lima Pilar Kedaulatan AI
Laporan tersebut menguraikan lima pilar utama menuju kedaulatan AI, yaitu:
- Infrastruktur digital yang andal
- Tenaga kerja AI berkelanjutan
- Industri inovatif dan mandiri
- Riset dan pengembangan unggul
- Regulasi serta etika yang kokoh
Jika dijalankan secara strategis, adopsi AI berdaulat diperkirakan mampu menambah USD140 miliar terhadap PDB nasional pada 2030, meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahunan hingga 6,8 persen, serta mempercepat pencapaian status negara berpenghasilan tinggi pada 2041 atau bahkan 2038 dalam skenario terbaik.
Selain itu, penerapan AI berdaulat diyakini dapat meningkatkan produktivitas sebesar 18 persen di sektor jasa, 15–20 persen di sektor manufaktur, dan 5–8 persen di sektor pertanian.
Nezar Patria: AI Harus Cerminkan Nilai Pancasila
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, menegaskan bahwa kedaulatan AI bukan sekadar urusan teknologi, melainkan juga kemandirian bangsa. “Kedaulatan AI berarti kita membangun teknologi yang merefleksikan nilai-nilai Pancasila, menjamin etika dan keamanan, serta memastikan manfaatnya dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat,” ujarnya.
Kebutuhan Investasi dan Penguatan Talenta
Laporan tersebut mencatat bahwa Indonesia membutuhkan investasi sekitar USD3,2 miliar hingga 2030 untuk memenuhi kebutuhan komputasi nasional. Saat ini, pusat data AI di Indonesia baru mencakup kurang dari satu persen pasar global, sehingga perlu percepatan pembangunan data center berbasis energi terbarukan dan perluasan jaringan 5G.
Selain itu, Indonesia perlu mengembangkan 400 ribu talenta AI dengan investasi sekitar USD968 juta untuk pendidikan, pelatihan, dan reskilling tenaga kerja.
Saat ini tercatat 364 startup AI di Indonesia dengan total pendanaan mencapai USD1,08 miliar. Inovasi seperti Sahabat-AI V2 model bahasa besar (LLM) berparameter 70 miliar yang mendukung bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, dan Batak menjadi bukti kemajuan riset nasional menuju kedaulatan AI.
Kolaborasi Strategis Menuju Indonesia Emas
CEO Twimbit, Manoj Menon, menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pemimpin di era AI berdaulat. “Dengan fondasi digital yang kuat dan ekosistem inklusif, Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan AI di Asia dan mempercepat pencapaian visi Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menegaskan komitmen perusahaannya dalam mempercepat transformasi digital nasional.
“Kedaulatan AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang membangun masa depan yang dimiliki dan dikendalikan oleh Indonesia sendiri. Melalui kolaborasi strategis dan inovasi berkelanjutan, kami berkomitmen menghadirkan konektivitas yang inklusif dan solusi AI yang beretika untuk memberdayakan setiap lapisan masyarakat,” jelasnya.
Menuju Ekosistem AI Berdaulat
Laporan Empowering Indonesia 2025 menutup temuannya dengan seruan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat fondasi infrastruktur, membangun talenta masa depan, serta menegakkan tata kelola AI yang beretika dan berkeadilan.
Dengan langkah terarah tersebut, Indonesia diyakini siap bertransformasi dari sekadar pengguna teknologi menjadi arsitek peradaban digital yang berdaulat. (TIM)

